Sabtu , November 17 2018
Home / Kripto / Apa Itu Crowdfunding? Begini Penjelasannya
Apa itu crowdfunding

Apa Itu Crowdfunding? Begini Penjelasannya

Istilah crowdfunding akhir-akhir ini mulai terdengar kembali setelah booming bitcoin dan blockchain. Crowdfunding sangat jarang ditawarkan melalui internet, kebanyakan penawaran ini ditujukan secara tertutup melalui forum. Sebelum berinvestasi kedalamnya, kenali lebih dahulu ‘apa itu crowdfunding‘, apakah istilah ini bermakna sama dengan ICO?

Crowdfunding atau dalam bahasa kita lazim disebut urun dana. Crowdfunding adalah sebuah usaha untuk mengumpulkan modal dari sejumlah individu untuk membiayai usaha baru. Istilah crowdfunding merupakan bentuk lain dari Crowdsourcing dan keuangan alternatif. Pada 2015, diperkirakan lebih dari 34 miliar dolar pendana berasal dari crowdfunding diseluruh dunia.

Crowdfunding biasanya memanfaatkan akses jaringan publik melalui media sosial dan situs web. Sehingga bisa lebih cepat dalam mengumpulkan investor dan pengusaha. Metode ini berpotensi untuk meningkatkan kewirausahaan dengan memperluas kumpulan investor, kerabat dan pemodal kapital.

Apa Itu Crowdfunding?

Dalam memahami apa itu crowdfunding, tentunya harus memahami sistem yang diberlakukan. Tidak semua negara membebaskan siapa saja untuk membuka crowdfunding. Seperti di Amerika Serikat, crowdfunding dibatasi oleh peraturan tentang siapa yang diizinkan untuk mendanai bisnis baru. Investasi dalam bentuk crowdfunding berbasis ekuitas diatur oleh Securities and Exchange Commission (SEC). Seberapa banyak orang-orang yang terlibat dalam kontribusi usaha tersebut.

Peraturan SEC lebih mirip dengan pembatasan investasi Hedge Fund (pengelola investasi global yang umumnya investor kelas atas). Aturan seperti ini justru akan melindungi investor kecil dan menghindari risiko tinggi. Crowdfunding ini memang sangat mirip dengan pendirian usaha mikro. Dan di Indonesia, crowdfunding akan segera diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Seperti yang baru-baru ini dilansir beberapa media tentang aturan baru tentang ekuitas crowdfunding di Indonesia.

Saat ini, crowdfunding berbasis ekuitas semakin populer di internet. Karena sistem ini sangat memungkinkan startup baru mengumpulkan dana tanpa menyerahkan kendali kepada investor capital. Sistem ini menawarkan investor kesempatan untuk mendapatkan posisi ekuitas dalam usaha itu.

Dalam sejarah penggunaan Crowdfunding telah banyak menciptakan peluang bagi wirausahawan. Bahkan tidak sedikit yang berhasil mengumpulkan dan investasi ratusan ribu atau jutaan dolar dari siapa pun melalui internet. Dan pada umumnya, usaha yang didirikan dari internet akan membuka sebuah forum terbuka bagi anggota yang ikut berinvestasi.

Contoh Crowdfunding Blockchain

Apa yang ditawarkan dari metode pengumpulan dana crowdfunding? Beberapa proyek crowdfunding yang ditemukan menawarkan imbalan, dimana setiap investor yang berpartisipasi akan menerima hadiah/reward dari investasinya. Crowdfunding dalam blockchain bertujuan untuk mengumpulkan dana menjalankan proyek dimana token digital ditawarkan sebagai hadiah/reward. Seluruh peserta yang ikut memberi dana tergabung dalam Initial Coin offering (ICO).

Baca juga: Apa Itu ICO Dan ITO Dalam Cryptocurrency?

Beberapa contoh crowdfunding dalam bisnis teknologi blockchain adalah Augur yang berhasil mengumpulkan dana 4 juta dolar AS dari lebih 3500 peserta. Ethereum blockchain, DigixDAO dan DAO, juga mengantongi jumlah yang luar biasa. Crowdsale terbesar pada tahun 2017 adalah Tezos yang mengumpulkan dana 232 juta dolar. Bancor mengumpulkan dana 153 juta dolar

Beda Crowdfunding Tradisional Dan ICO

Crowdfunding sudah jelas menawarkan imbalan disetiap investasi. Bisa saja berupa persentasi keuntungan atau dividen, reward potongan harga, barang ataupun software gratis. Seperti dalam proyek crowdfunding software Blender 3D yang menawarkan keuntungan khusus bagi investor. Dalam crowdfunding blockchain bisa saja bernilai tambah berupa token airdrop, ataupun harga token jauh lebih murah dari harga setelah masuk pasar. Ini yang sering kali ditawarkan dalam ICO.

Tetapi perlu diingat, bahwa crowdfunding diatas tidak harus menggunakan blockchain sebagai bukti kepemilikan. Bisa saja secara tertulis diatas kertas ataupun sistem database tradisional. Kemudian, crowdfunding sangat memungkinkan pembagian dividen atau keuntungan dari usaha yang didirikan.

Berbeda dengan ICO yang harus mengeluarkan token berbasis blockchain sebagai bukti kepemilikan atau investasi. Itulah sebabnya disebut ‘Coin Offering’, menawarkan koin ataupun token sebagai imbalan yang bernilai (setidaknya nilai jual sama dengan investasi). Pada prinsipnya, kedua metode ini memberi manfaat dan tujuan yang sama.

Tetapi sangat jarang ICO yang menawarkan dividen kepada pendukungnya. Crowdfunding bisa diterapkan ke proyek apa saja, sedangkan ICO hanya bisa diterapkan pada blockchain karena harus mengeluarkan token crypto.¬†Penjelasan singkat ini setidaknya sudah membuat kita sedikit lebih paham tentang ‘Apa itu crowdfunding’. Dan penawaran ICO atau ITO yang kita dengar saat ini merupakan crowdfunding blockchain.